Templates by BIGtheme NET

Adat sewaktu Anak masih dalam Kandungan

Menurut adat Karo sewaktu anak berada dalam kandungan berumur 5 – 8 bulan harus diadakan suatu kegiatan atau acara. Bagi perempuan yang mengandung bersama suaminya dijamu makan bersama, artinya dia berdua diberi makanan. Pihak yang mengadakan jamuan makan tersebut ialah Kalibubu yaitu orang tua pihak perempuan  dengan dilengkapi Anak Beru, Senina, dan Kalibubunya.

Inti utama dari acara itu ialah menjamu si perempuan berikut suaminya dengan makanan berupa gulai ayam, telur dan nasi secara lengkap (sangkepi = bhs. Karo) ditaruh dalam satu piring besar dan dialasi dengan selembar kain yang dilipat bernama “Uis Arinteneng”. Mereka berdua dipersilakan makan dalam satu piring. Setelah mereka selesai makan baru seluruh hadirin dapat makan bersama.

Kemudian Dukun/Guru (pada tempo dulu) melihat dan meneliti “terajun manuk” yaitu urat tulan kepala ayam berbentuk cabang. Dengan melihat terajun itu sang dukun/guru dapat memberikan isyarat tentang baik atau kurang baiknya pelaksanaan acara itu.

Bertalian dengan acara itu kepada perempuan yang mengandung setelah selesai makan ditanyakan apakah ada perasaannya kurang enak, sakit hati, kecewa, selama dia berumah tangga, baik oleh suaminya, mertuanya atau saudaranya dan orangtuanya. Bila temyata ada, maka pada kesempatan itu dihapuskan semua dengan pernyataan bermaaf-maafan. Biasanya acara itu dilakukan pada malam hari bertempat di rumah yang dijamin dan khusus untuk anak yang pertama Biaya untuk malam hari datanggung oleh pihak keluarga yang sedang menjamu, sedang pada pagi harinya ditanggung oleh pihak yang dijamu.

Adapun aksud dan tujuan secara tersirat mengenai pelaksanaan acara itu antara lain, pihak orangtua si perempuan merasa gembira anaknya telah mengandung, berarti perkawinannya normal tidak menimbulkan masalah dan juga dia mengharapkan agar anaknya itu sewaktu melahirkan tidak mengalami kesulitan dan sehat walafiat bersama bayinya nanti. Acara adat tersebut dalam bahasa Karo disebut “Nggetuk Bulung Intung”, ”Nambun Page Mbuah”, Ngembah Tinaruh Mbentar” , ketiga nama tersebut wujudnya sama. Menurut adat, acara itu hanya dilakukan untuk anak pertama dan keempat.

Pilar Budaya Karo © Mejuahjuah.net

Leave a Reply

Your email address will not be published.