Templates by BIGtheme NET

Kiras Bangun alias Garamata : Pahlawan Bangsa atau Penghambat Penginjilan

Oleh Pdt. Jadiaman Perangin-angin, DTh
(Ketua Umum Moderamen GBKP)

A. Pengantar

Adanya upaya untuk menggali sejarah perjuangan seorang pemimpin melawan penjajahan Belanda pada saat sekarang ini adalah merupakan momentum yang tepat dan baik, khusunya di tengah-tengah situasi kita yang terkesan sulit mencari sosok yang dapat dijadikan pola anutan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (yang disusun oleh Tim Penyusunan Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta: Balai Pustaka, 1990, cetakan ketiga, h. 636), kata “pahlawan” diartikan sebagai “pejuang yang gagah berani; orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”. Atau dalam Oxford Advanced Dictionary English (yang disusun oleh A.S. Hornby dkk, Oxford dan berbagai kota: Oxford University Press, 1985, cetakan ke 22, h. 401), persamaan kata “pahlawan” dalam bahasa Inggris ialah kata “hero” antara lain diartikan sebagai “person respected for bravery or noble qualities”.

Dari pengertian itu saja maka seseorang dapat dikatakan sebagai “pahlawan” atau “hero”, bukanlah soal sebutan saja tapi dari tindakan, perjuangannya dan integritas pribadinya. Bukan seseorang yang terlihat sebagai orang yang suka menggembar- gemborkan akan jasa-jasanya untuk membela bangsa, namun tindakan dan karya nyatanya tidak ada. Tetapi seorang yang sudah terbukti dari tindakannya orang lain menilainya sebagai “pejuang yang gagah berani”, seseorang yang bukan bercita-cita sejak semula untuk memperoleh pengakuan dan penghargaan sebagai pahlawan. Seorang pahlawanan secara spontanitas, didorong oleh hati nuraninya sendiri menggerakkan dirinya dan mengajak orang-orang lain yang seide dengan perjuangannya untuk melakukan sesuatu yang diyakini benar (kebenaran), melawan ketidakbenaran tanpa memikirkan akibat yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Bukan dirinya sendiri tapi orang lainlah yang memberi penilaian kepadanya dari apa yang dilakukannya, sehingga ia dikenal sebagai “orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”. Jadi seseorang dapat dikatakan pahlawan bukan karena dirinya sendiri yang menyebut ia seorang pahlawan, tetapi orang lain yang mengetahui dan menilai dirinya, dari apa yang dilakukannya, yang diperjuangkannya, sehingga pada akhirnya membuat suatu kesimpulan bahwa ia patut disebut seorang pahlawan.

Dari definisi “pahlawan” atau “hero” dalam bahasa Inggris ada nuansa tambahan, yaitu selain “ia dihormati karena keberaniannya” (bravery) membela kebenaran, tetapi juga dalam dirinya sendiri melekat suatu sifat dan mutu yang tinggi (“noble qualities”). Dalam Kamus yang sama kata “noble” diartikan sebagai “having, showing high character and qualities”, yang kira-kira artinya: seseorang yang memiliki, dan memperlihatkan karakter dan kwalitas yang tinggi (A.S. Hornby, cs, ibid, h. 570).

Dan menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1990, cetakan pertama, jilid 12, h.29-30) dalam pabrik “pahlawan Indonesia” menyatakan bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 33 tahun 1964, bahwa pahlawan Indonesia adalah seseorang yang semasa hidupnya sangat berjasa terhadap bangsa dan negara, dan telah mendapatkan pengesahan dari pemerintahan dengan surat keputusan presiden.

Dari penjelasan itu berarti untuk menjadi pahlawan harus memenuhi persyaratan a) secara “material”, yaitu “seseorang yang semasa hidupnya sangat berjasa terhadap bangsa dan negara “, dan b) secara “formal” yaitu “telah mendapat pengesahan dari pemerintah dengan surat keputusan presiden”, tentunya setelah persyaratan prosedural untuk itu terpenuhi.

Selanjutnya, menurut peraturan itu, “pahlawan” berarti a) warga negara RI yang gugur, tewas atau meninggal dunia karena akibat tindakan kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa, b) warga negara RI yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindakan kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanannya dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa, yang di dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh tindak atau perbuatan yang menyebabkan nilai perjuangannya berkurang.

Selanjutnya bagi pahlawan yang “berjasa” dan “berkorban” itu diberikan tanda kehormatan berupa bintang sesuai dengan derajat ketinggian jasanya. Sesuai dengan tingkat kepahlawanannya pemerintah memberikan gelar tertentu seperti Pahlawan Nasional, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Proklamator. Untuk membedakan jenis pahlawan ini pakar di bidangnyalah akan memberi penjelasan selengkapnya.

Dalam Alkitab secara khusus berbicara tentang “pahlawan iman” di Ibrani 11: 1-40 digunakan istilah “saksi-saksi iman”. Dengan terlebih dahulu menyebutkan definisi iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat”, digambarkan disana contoh orang yang dapat dikatakan sebagai “pahlawan iman”. Umpamanya, Abel dianggap sebagai pahlawan iman karena ia memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan walaupun mungkin saudaranya Kain tidak, sehingga ia dibunuh oleh saudaranya itu karena iri. Tindakan Abel ini didorong oleh iman. Abraham meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya dan pergi ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan, juga didorong oleh iman, walaupun ia belum mengetahui kemana tepatnya ia harus pergi. Amran dan Yohebet, orangtua Musa menyembunyikan Musa dari ancaman pembunuhan semua anak laki-laki orang Israel di Mesir, juga didorong oleh iman. Demikian juga tokoh lainnya, digambarkan bahwa karena iman yang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu kebenaran atau melawan ketidakadilan karena ada harapan bahwa Tuhan ikut bekerja dan member kemenangan pada saatnya yang tepat.

Berdasarkan pemahaman tentang pengertian pahlawan itu dihubungkan dengan sosok Kiras Bangun alias Garamata, muncul pertanyaan kita : a) apakah ia dapat dikategorikan sebagai pahlawan yang diartikan sebagai pejuang yang gagah berani, yang menonjol, yang rela berkorban untuk membela kebenaran bagi kepentingan bangsa dan negaranya, dan yang memiliki sifat-sifat yang bermutu tinggi dalam dirinya sendiri ? Dikaitkan dengan perjuangannya melawan penjajah Belanda, yang pada waktu itu sejalan pula dengan dukungannya bagi para missionaries Belanda yang mengabarkan Injil di Tanah Karo, apakah Kiras Bangun dapat dianggap sebagai seorang pejuang untuk kepentingan bangsanya atau ia merupakan sosok yang menghambat penginjilan di Tanah Karo ?

Untuk mencari kebenaran siapakah sebenarnya sosok Gara Mata atau Kiras Bangun, yang pernah mengukir sejarah perjuangan bangsa di Karo area pada tahun 1902-1904, marilah kita menoleh sejenak beberapa catatan sejarah yang dapat membantu kita untuk mencari jawaban dari pertanyaan di atas.

B. Perlawanan Kiras Bangun terhadap penjajah Belanda

Sebagai seorang yang pernah bertugas sebagai rohaniawan di Desa Batukarang (tempat kelahiran Garamata – Panitia) kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya sempat bertanya –tanya dalam hati ketika orang-orang menyebutkan nama suatu pemukiman di sana: “tangsi polisi”. Secara diam-diam dicoba diselidiki apakah ada tanda-tanda akan adanya sebuah “tangsi” atau “pos jaga” atau bahkan “asrama atau barak polisi” disana, namun nyatanya tidak ada ditemukan sama sekali. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “tangsi artinya pos atau asrama atau barak polisi atau tentara” (ibid, h. 900). Apalagi Desa ini walaupun jumlah penduduknya termasuk besar untuk ukuran tanah Karo, namun bukan sebagai ibu kota kecamatan yang biasanya tempat berkedudukan polisi sektor (polsek) atau ibu kota kabupaten yang biasanya berkedudukan polisi resort (polres). Yang terlihat di lokasi itu waktu itu hingga sekarang hanya pemukiman penduduk saja. Darimana asal usul istilah itu untuk daerah itu ? Apakah muncul tiba-tiba tanpa sebab yang jelas ? Atau memang pernah ada “tangsi” di sana pada waktu dahulu kala ?

Rupanya jawaban atas pertanyaan itu terkait dengan seorang sosok yang bernama Kiras Bangun alias Garamata. “Tangsi” itu sengaja dibangun penguasa Belanda pada tahun 1909 di dekat rumah Garamata untuk mengawasi gerak-geriknya, setelah ia dan keluarganya selesai menjalani masa pengasingan selama empat tahun di “barong-barong” Riung, suatu perladangan seberang Batukarang bagian kampung Nageri. Bahkan hingga zaman kemerdekaanpun konon, “tangsi” itu masih ada. Baru tahun 1947 tangsi itu tidak ada lagi, bersamaan dengan pembumihangusan desa Batukarnag untuk mempertahankan kemerdekaan RI. (DR. R. Bangun dalam Singarimbun (ed), Garamata : Perjuangannya melawan Penjajahan Belanda 1901-1905, Jakarta : Balai Pustaka, 1992, h. 73-74). Pertanyannya ialah, mengapa Belanda begitu “was-was” atau “takut” kepada Garamata sehingga masih perlu terus diawasi, padahal pasukannya dan ia sendiri sudah menyerah ? Tidakkah hal itu dapat dipakai sebagai petunjuk yang dapat memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh atau kharisma kepemimpinannya untuk melawan Belanda ? Kalau betul demikian, mengapa begitu kuat pengaruhnya bagi masyarakat Karo dalam melawan penjajahan? Tidakkah itu memperlihatkan suatu bukti akan kuatnya integritas dan kwalitas kepahlawanannya dalam melawan penjajahan Belanda yang notabene, secara teknis dan teoritis jauh lebih kuat dalam persenjataan, anggaran dan militer ?
Kalau tidak demikian, bukankah sebenarnya terlalu berlebihan bagi penjajah Belanda membangun satu “tangsi polisi” untuk mengawasi seorang anak manusia yang bernama Garamata, jikalau tidak ada sesuatu yang luar biasa dalam dirinya untuk memepengaruhi masyarakat melawan penjajah Belanda ?

Untuk menjawab itu, ada baiknya kita periksa catatan sejarah tentang sikapnya yang konsisten, yang tidak mau menyerah, tidak mau kompromi, tidak mau bekerjasama (non-kooperatip) kepada penjajah Belanda, dan bahkan berperang secara terbuka hingga bergerilya melawan Belanda, walaupun kepadanya diberikan tawaran berbagai hadiah.

Pertama: Ajakan Belanda kerjasama dengan Garamata tahun 1901 ditolaknya, walaupun utusan itu sudah datang sampai tiga kali, dan bahkan diberi hadiah.

• Utusan khusus Belanda dari Langkat seorang mandur perkebunan Belanda bernama Nimbang Bangun (asal Narigunung) menyampaikan pesan agar Garamata bersahabat dengan Belanda dengan menyerahkan daerah Karo untuk dijadikan perkebunan, dengan imbalan pangkat, uang, senjata, dll. Dengan catatan apapun jawabannya, Belanda sudah bertekad untuk menduduki tanah Karo (Dr. R. Mulia Bangun dalam Singarimbun, ibid., h. 29-30).

• Tercatat utusan Belanda Nimbang Bangun sampai tiga kali datang ke Batukarang menyampaikan pesan Belanda, namun ajakan Belanda tetap ditolak oleh Garamata (Ibid., h. 32).

Kedua, Garamata tidak mengambil keputusan sendiri, tapi bersama, ia sanggup menghimpun kekuatan dan bekerjasama dengan kepala-kepala urung di wilayah Tanah Karo, khususnya untuk melawan penjajahan Belanda.

• Untuk membahas jawaban terhadap tawaran itu, ia tidak langsung menolaknya secara pribadi, namun melakukan perundingan terlebih dahulu dengan “keluarga terdekat”, sembuyaknya di Batukarang: Pa Nunggung Bangun, Pa Larlar Bangun, Pa Tambangen Bangun, Pa Rempu Bangun. Namun, kemudian ia juga mengundang “tokoh Karo” ke Batukarang, yaitu dari Karo Tengah Pa Ngempani Ginting Babo dari Munthe, Pa Bulan Sembiring dari Sarinembah, Pa Bintang Sitepu dari Kutatengah; dan dari Karo Julu: Pa Teredim Tarigan dari Lingga Julu; dari urung Telu Kuru Ngapin Ginting dari Surbakti; dan dari Karo Kenjahe Pa Nerus Sebayang dari Kuala. Hasil pertemuan itu ialah: a) menolak kedatangan Belanda, dengan resiko siap untuk berperang, kalah menang soal belakang; b) turut berjuang melawan Belanda bersama saudara lain dari Aceh, Gayo, Alas dan Singkil (Ibid., h. 29-30).

• Namun dalam rumusan jawaban Garamata sebagai pimpinan perjuangan Karo kepada Belanda terkesan “diplomatis” : a) persahabatan dengan Belanda harus dengan dasar saling menghargai dan menghormati; b) untuk berdagang keperluan Belanda boleh saja, tapi menduduki Tanah Karo ditolak; c) Belanda tidak perlu mencampuri pemerintahan di tanah Karo sebab memiliki adatnya untuk mengatur dirinya dengan baik.
• Terlebih setelah pendeta Guillaume datang menetap di Kabanjahe untuk kali kedua (1903), setelah tahun 1902 diusir dengan kekerasan, terlebih lagi kali ini dengan pengawalan tentara Belanda. Dengan prakarsa dan pengorganisasian Garamata diadakanlah pertemuan seluruh urung di tanah Karo yang pertama di Nagor dan kedua di Buah Tubung. Yang datang tokoh-tokoh dari Urung Lima Senina, Sepuluhdua Kuta, Ajinembah, Sukanalu, Empat Teran, Telu Kuru, Sepuluhpitu Kuta, Perbesi, Juhar, Kutabangun ditambah empat kampung mandiri (nama-nama tokoh itu dapat dilihat di ibid., h. 40-41). Kesimpulan dari penemuan itu ada sepuluh butir a) Guillaume harus diusir dan pelindungnya (orang karo) harus diadili; b) mengajak seluruh urung dan kampung mandiri melawan Belanda; c) akan diadakan di Jeraya sumpah setia; d) untuk konsumsi, setiap urung dan kampong menyediakan seekor kerbau; e) mengajak Sibayak Baturedan melawan Belanda; f) setiap kampung membangun benteng pertahanan berupa parit berkelok lengkap dengan ranjaunya; g) setiap rumah tangga menyediakan beras satu kaleng untuk perbekalan pasukan; h) setiap urung menyediakan pelurunya sendiri; i) keputusan itu harus di sosialisakan kepada rakyat; dan j) untuk angkat sumpah di Jeraya masing-masing membawa perbekalannya sendiri (ibid., h. 40-43).

Ketiga, Garamata mampu menjalin kerjasama dengan panglima-panglima perang dari wil ayah luar Karo seperti Gayo, Akas, Singkel untuk melawan Belanda.

• Dengan mengundang Pa Merkat Sebayang dari kampung Gunung (Karo Kenjahe) dan Pa Rakat Pinem (Dairi/Pakpak) ke Batukarang, Garamata memberi kepercayaan kepada mereka (menugasi mereka) untuk mengadakan kerjasama dengan panglima-panglima perang beberapa daerah lain. Pa Merkat disuruh ke Gayo dan Alas; Pa Rakat disuruh ke Singkel (Aceh Selatan) untuk melawan Belanda.

• Hasilnya dilaporkan bahwa Panglima Layang dan Ujan dari Alas dan Gayo sudah bersedia bekerjasama Garamata dan pasukannya melawan Belanda, demikian juga Sutan Daulat dari Singkel.

Keempat, Garamata dan pasukannya pernah mengusir pendeta Belanda tahun 1902 dari Kabanjahe.

Sebagaimana disebutkan di atas tadi, bahwa pada tahun 1902 pendeta Guillaume membuka pos penginjilan di Kabanjahe, namun tidak lama sesudah itu, ia diusir dengan membakar rumahnya. Tindakan ini dilakukan disebabkan ia dianggap sebagai alat penjajah membuka jalan masuk Belanda menguasai Tanah Karo.

Kelima, Garamata dan pasukannya mengandalkan semangat cinta tanah air dan anti penindasan dan penjajahan,

Walaupun Garamata dan pasukannya yang gagah berani hanya bermodalkan semangat perjuangan dan senjata ala kadarnya dan bukan tentara profesional seperti pasukan Belanda namun tidak takut berperang melawan musuh tentara Belanda yang diantaranya adalah tentara profesional yang terlatih dan diperlengkapi persenjataan yang jauh lebih canggih. Peperangan fisik dilakukan untuk melawan Belanda bukan hanya berlangsung sekali, tapi beberapa kali a.l. pertempuran di Lingga dan Linggajulu (9-9-1904), Batukarang (15-9- 1904) selama tiga hari.

Keenam, Garamata tetap konsisten untuk melawan Belanda walaupun secara perang fisik secara terbuka ia sudah kalah.

Walaupun setelah perang tiga hari 15 September 1904 di Batukarang dan Negeri pasukannya dan wilayah pengaruhnya sudah kalah dan menyerah, namun ia dengan sejumlah pengikutnya masih tetap melakukan peperangan secara bergerilya dari tempat pengungsiannya. Ia dan rombongannya sempat melakukan pertemuan di Kuala untuk menyatukan tekad melawan Belanda secara gerilya. Perlawanan dijalankan terus sambil terus berusaha menjalin kerjasama dengan Alas, Singkil, dan Gayo. Namun Belanda memutuskan hubungan dengan sekutu-sekutu itu, sehingga ia terus melakukan perlawanan di daerah Liren, Launjuhar, Laupetundal, dll. Garamata terus berperang secara bergerilya selama sepuluh bulan (September 1904-kurang lebih juli 1905).

Ketujuh: Walaupun menyerah “semangat” peperangan jalan terus.

Setelah mendengar tawaran perdamaian Belanda melalui iparnya Pa Regan Sebayang dari Kuala, berisi a) supaya Garamata dan pengikutnya menyerah dan kembali ke masyarakat, b) Belanda tidak akan menuntut apapun termasuk hukuman, Garamata secara realistis menerima perdamaian itu, dengan harapan setelah bermukim di Batukarang, ia secara diam-diam menyusun kekuatan urung-urung dan melakukan peperangan kembali kepada Belanda dan dapat mengubah keadaan seperti falsafahnya: terjadi “banjir besar”, dengan semangat perjuangan secara bersama-sama dapat mengubah “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo”.

Dengan mengingat hal inilah barangkali Belanda cukup beralasan untuk mengawasinya dengan membangun “tangsi penjaga” dekat pemukiman Garamata setelah ia kembali ke masyarakat. Sikap nonkooperatifnya dengan penjajah Belanda, dan integritas dirinya tetap memusuhi penjajah, membuat dia tetap tidak mau dibujuk apalagi dipengaruhi Belanda, walaupun kepadanya diberikan tugas sebagai “pegawai Belanda” sebagai cara untuk mengawasi dan mengontrol segala gerak-geriknya di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian semakin jelas alasan “ketakutan” Belanda kepada Garamata, walaupun ia bukan lagi sebagai pemimpin formal bagi masyarakat Karo. Agaknya kekuatiran itu berasal dari kesadaran akan kuatnya pengaruh Garamata dalam memimpin pergerakan rakyat untuk menentang penjajah. Belanda sadar bahwa pengaruh informal berupa semangat perlawanan itu jauh lebih besar dibandingkan dengan pengaruh kekuasaan formal yang dipaksakan yang pada saat itu berada dalam pengendaliannya.

C. Adakah perlawanan Kiras Bangun terhadap penginjilan ke Karo Area ?

Adapun soal sikap Kiras Bangun atau Garamata terhadap penginjilan ke Karo tidak banyak yang dapat dikemukakan. Garamata melihat siapapun dia, apakah penginjilan atau apakah dia Bangun mergana dari Narigunung (yang seharusnya dihargai sebagai pihak “sembuyak” atau saudara dalam kekerabatan suku Karo) yang menjadi kurir Belanda, kalau tujuannya hanya untuk menyerahkan Karo kepada penjajah Belanda sikapnya sangat tegas: nonkooperatip dan nonkompromi.

Untuk dapat melihat sikap Garamata terhadap penginjilan secara tidak langsung ada baiknya kita perhatikan beberapa catatan ini.

Pertama: Kedatangan Belanda ke Karo menggunakan metode “devide et impera”

Hal ini terutama terlihat bagaimana Belanda mendekati pengulu Kabanjahe Pa Pelita dan Pa Mbelgah. Melalui merekalah Belanda masuk ke Karo. Dalam hal ini penguasa perkebunan/penguasa Belanda menggunakan para missionaries Belanda seperti Guillaume untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat Karo.

Mr. S. C. Graff van Randwijk, yang pernah menjadi Konsul Zending di Hindia Belanda, mencatat bahwa ada dua hal kekhususan cara pekabaran Injil masuk ke daerah Karo, yaitu a) bahwa usaha pekabaran Injil dimulai dan diprakarsai dunia perusahaan Barat, yaitu perusahaan perkebunan di daerah Deli; b) bahwa di sana ada peristiwa-peristiwa yang tidak dialami di daerah lain berkenan dengan pendidikan sekolah (Mr. S. C. Graff van Randwijk, OEGSTGEEST, Kebijakan lembaga-lembaga pekabaran Injil yang bekerjasama 1897-1942, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989, cetakan pertama, h. 561).

NZG organisasi penginjilan pada masa itu terutama melakukan pekabaran Injil ke wilayah Timur Indonesia belum merencanakan perluasan wilayah operasi penginjilannya ke wilayah Barat. Disamping kekurangan tenaga mereka juga kekurangan dana.

Usul untuk membuka penginjilan ke daerah Karo muncul dari ajuran seorang anggota perlemen, yang kemudian menjadi menteri, yaitu J.T. Cremer 16 Nopember 1888. Bersama dengan zendeling Kreemer dari Jawa Timur mendatangi direksi perkebunan agar membantu zending NZG dalam pendanaan. Nopember 1889 ditandatangani perjanjian antara NZG dengan panitia Zending Batak Karo yang mewakili perusahaan di Amsterdam, dan tahun 1890 H.C. Kryut mendarat di Belawan sebagai zendeling perintis (ibid).

Walaupun mungkin motif awalnya murni untuk tujuan mulia untuk memperluas pekabaran Injil, namun kesan “saling memanfaatkan” antara pengusaha dan zending tidak dapat dihindari. Dengan “memperalat” missi keagamaan dianggap lebih halus dalam melakukan missinya ke Karo. Oleh karena itu, walaupun di satu pihak ada menganggap bahwa Pa Pelita dan Pa Mbelgah merupakan oknum-oknum yang memberi jalan dan peluang kepada penjajah Belanda untuk menguasai Karo (menghianati bangsanya), namun mungkin di pihak lain ia juga dapat dipandang sebagai orang yang berjasa bagi masuknya kekristenan di Karo Tinggi dan dengan demikian membuka pintu bagi peradaban modern, dengan terbukanya persekolahan, pelayanan kesehatan, maupun pengenalan akan berbagai usaha pertanian dan perdagangan.

Adanya orang Belanda (Westenberg, yang kemudian menjadi Asisten Residen urusan Batak) yang mengawini putri Karo beru Sinulingga juga dapat ditafsirkan secara berbeda. Di satu pihak dapat dianggap bahwa keluarga Sinulingga sebagai “penghianat”, karena mau “diperalat” Belanda untuk mempererat hubungannya dengan masyarakat Karo dan kemudian menguasainya (perkawinan politik); tapi juga di pihak lain, dapat ditafsirkan sebagai berkah, karena dengan demikian maka keterlibatan dengan orang Karo (paling tidak keluarganya) memasuki peradaban Barat semakin nyata dan cepat, untuk mempercepat proses modernisasi masyarakat Karo.

Walaupun demikian pada masanya memang akibatnya ialah terjadi perpecahan di kalangan masyarakat Karo; dan perpecahan itu mengundang masuk pihak Belanda dalam pertikaian itu dan memenangkan pertarungan. Hal itu tercermin dalam beberapa ungkapan dalam Bilang-bilang tentang Garamata (yang ditulis Karo mergana, upas Sibayak Barusjahe, dalam Garamata Perjuangannya melawan Penjajahan Belanda 1901-1905 suntingan Dr. Masri Singarimbun, Jakarta: Balai Pustaka, 1992, h. 117-124).
Sikap kooperatip itu diartikan sebagai kelicikan semata sang pengulu. “ Kalau dahulu bapak kita yang merajai orang gunung ini, dia membantu kompeni, dia hanya pintar pikirannya yang lain tidak ada”. Namun menurut penulis puisi ini, ia tidak menyadari akibat perbuatannya yang menjerumuskan bangsanya sendiri menjadi orang jajahan yang harus membayar pajak, “tadinya dibuatnya menerima tidak berpiutang, sekarang membayar walaupun tidak berhutang”. Kembali ia menyesali “pintarnya” bangsa sendiri menjerumuskan bangsanya, “pikirannya yang lain tidak ada, dibantah dia tidak bisa lagi, dia sudah seperti parasit”.

Sesama rakyat Karo sudah menjadi pecah, sehingga memudahkan pihak luar untuk menguasai kita, dan akhirnya memang pihak luarlah yang menjadi pemenang.

Terlepas dari unsur positif masuknya peradaban Barat ke Karo, dan Indonesia umumnya, perlulah kita menarik pelajaran dari peristiwa ini, agar tidak berulang ke depan. Apapun yang terjadi, walaupun ada perbedaan pendapat diantara kita marilah kita bicarakan bersama untuk mencari solusinya, agar jangan sampai pihak luar yang akan mengendalikan kita penduduk Indonesia ini secara umum, dan masyarakat Karo ini secara khusus.

Kedua: Penginjilan ke Karo Area dibantu oleh penjajah/pengusaha perkebunan Belanda

Perusahaan perkebunan membantu para missionaris dalam berbagai cara, dan pihak merekalah yang menentukan daerah yang menjadi tempat pos penginjilan pertama mereka. Hal itu diasumsikan bahwa mereka jauh lebih mengetahui kondisi lapangan dibandingkan missionaris yang baru datang itu. Dengan alasan itulah agaknya maka daerah Buluhawar dijadikan tempat penginjilan pertama disebabkan daerah ini dianggap dapat menjangkau orang karo yang sering menganggu usaha perkebunan Belanda. Orang-orang inilah yang mendesak “dijinakkan” terlebih dahulu. Sementara Karo tinggi masih belum saatnya disebabkan perlawanan yang masih sangat tinggi.

Missionaris M. Joustra tahun 1894 setelah datang melapor dulu ke kantor Deli-Maatschappij. Perusahaan menyumbangkan tenaga buruh dan bahkan untuk membangun rumah guru bagi zendeling H. Guillaume, dan mereka juga yang mengangkut barang-barang J.H. Neumann dari Medan ke Buluhawar. Sekolah pendidikan guru zending di Raya dibangun dengan bantuan arsitek Deli Mij, sedangkan perusahaan perkebunan Senembah dengan cuma-cuma menyediakan rumah untuk pekabar injil Bodaan. Bukti bantuan fihak perkebunan membantu usaha pekabaran injil di Deli, pada HUT 25 tahun usaha pekabaran Injil di Deli, NZG menyatakan ucapan terima kasihnya kepada perkebunan dengan ungkapan “rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya, karena kebebasan kami sedikitpun tidak dibatasi oleh pihak yang menanggung biaya kegiatan-kegiatan kami”. Namun demikian, belakangan sikap tanpa pamrih dari perkebunan berubah, terutama setelah zendeling tidak dapat diandalkan untuk membantu mereka, antara lain mengarahkan rakyat Karo menjadi buruh perkebunan dan membantu tentara Belanda melawan bangsanya sendiri dalam Perang Aceh (van Randwijk, idem, h. 562).

Sikap perkebunan ini bukan hanya merugikan usaha penginjilan tetapi juga memperkuat kecurigaan dan bahkan kebencian masyarakat. “Bataksche Vareeniging” (Himpunan Batak) yang didirikan di Medan tahun 1908 mengambil alih tugas panitian Zending Batak Karo di Amsterdam. Namun perhimpunan ini juga tidak berhasil memenuhi kebutuhan pekabaran Injil.

Oleh karena itu tahun 1909 NZG untuk pertama kalinya harus menanggung biaya pekabaran Injilnya (ketika itu pandangan panitia sudah terpecah, antara pemikiran bahwa zending harus membiayai sendiri pelayanannya, dan sebagian lagi sepatutnya perkebunan juga ikut membantu). Akhirnya secara resmi tanggal 23 April 1914 NZG memutuskan bahwa zending membiayai dirinya sendiri. Walaupun demikian NZG di Negeri Belanda tetap mengirimkan dananya melalui Bendahara “Bataksche Vereeniging” sampai tahun 1932 untuk mengingatkan perkebunan akan tanggungjawabnya (ibid., h. 563-564).

Untuk dataran tinggi Karo baru hingga April 1905 dianggap cukup tenang, sehingga zendeling E. J. van den Berg bersama istri dan anaknya dapat bermukim.

Ketiga: Penginjilan ke masyarakat Karo dilakukan tidak hanya secara rohani tapi komprehensip, namun informasi ini barang kali kurang diketahui oleh Garamata.

Yang membuat masyarakat Karo mengubah persepsinya terhadap zending Belanda sebagai agen penjajahan Belanda ialah disamping sikap zending kemudian mengambil jarak dengan pihak perkebunan, didorong oleh kondisi politik di negeri Belanda dengan “politik etisnya”, maka gaya pekabaran Injil yang diperkenalkan adalah komprehensip. Bukan saja di bidang kerohanian, tapi juga memajukan masyarakat di bidang perekonomian dengan memperkenalkan tanaman produktip seperti karet di Karo Jahe (Sibolangit), kentang dan sayur-sayuran di Karo Tinggi; membuka tempat perdagangan (tiga/pasar), membuka sekolah, membuka pelayanan kesehatan, membuka jalan raya untuk pengangkutan hasil bumi dan mobilitas sosial (mungkin juga maksud belanda mempermudah pasukannya untuk bergerak mengamankan wilayah jajahannya), dsbnya.

Salah satu lembaga yang berusaha untuk memajukan Karo dinamai “Bataksche Institut” atau lembaga Batak yang didirikan di Leiden tahun 1908 oleh mahaguru dan biayanya diusahakan oleh perkebunan. Tujuannya “mengumpulkan dan melengkapi ilmu pengetahuan tentang Tanah Batak, dengan maksud agar pengetahuan itu digunakan untuk pembinaan suku Batak”. Lembaga itu antara lain mendirikan Rumah Sakit Kabanjahe serta sebuah STP (Sekolah Teknologi Pertanian ?), dan beberapa kebun percobaan dengan tujuan membina perkebunan sayuran dan kentang. Lembaga itu juga bertujuan untuk menelaah kebudayaan suku Batak. Sebagai direktur lembaga itu ialah zendeling Joustra yang pernah bertugas di Karo. Baru tahun 1935 “Batak Institut” menyerahkan Rumah Sakit Kabanjahe kepada NZG (van Randeijk, ibid., h. 562-563).

Semua usaha missionaris yang positif bagi kemajuan masyarakat Karo mungkin kurang mendapat informasi kepada Garamata, atau mungkin ia juga sudah mengetahuinya, namun sejarah tidak mencatatnya. Terakhir kita beroleh kesan bahwa Garamata hingga saat terakhir hidupnya terus melawan Belanda yang dikenalnya sifatnya hanya menjajah dan membuat sengsara masyarakat; yang dulunya terhormat dan merdeka melakukan apa saja, menjadi masyarakat terjajah dan tidak memiliki kehormatan sendiri lagi.

D. Penutup

Kiras Bangun atau Garamata , dengan mengingat sifat kesatriaannya, keberaniaannya untuk melawan kehendak Belanda “menyerahkan” tanah Karo untuk perluasan wilayah perkebunannya, kesanggupannya menyusun kekuatan penduduk Karo bahkan menjalin kerjasama dengan Alas, Singkil dan Gayo untuk melawan Belanda, serta kekonsistenannya untuk tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda tidak dapat disangsikan lagi bahwa ia adalah seorang pahlawan. Jenis kepahlawanan yang layak ia sandang, apakah sebagai Pahlawan Nasional, Pahlawan Kemerdekaan, Pahlawan Revolusi, dll marilah kita dengarkan dari pakar yang terkait.

Sedangkan dalam kaitan pertanyaan, apakah Garamata menghambat usaha pekabaran Injil kepada orang Karo, khususnya di dataran tinggi, mungkin dapat dikatakan bahwa secara selintas memang “ya”, sebab tidak dapat disangkal bahwa ia berperan dalam mengusir pendeta Guillaume yang sudah bermukim di Kabanjahe tahun 1902, dan 1903. Namun sikap itu tidak dapat dikategorikan menolak pekabaran injil secara murni, dikarenakan missionaris pekabar injil yang datang ke Karo bersamaan dengan kedatangan orang Belanda yang sudah dikenal pada waktu itu sebagai penjajah yang sedang merambah wilayah baru untuk memperluas kekuasaan. Setelah berbagai wilayah lain di Indonesia ia kuasai, dan wilayah pemukiman orang Karo dataran rendah dikuasai maka giliran dataran tinggi Karo ingin dikuasai juga. Jadi dapat dikatakan bahwa Garamata melawan penjajah Belanda, namun karena kaum pekabar Injil terkesan “diperalat” oleh tuan kebun Belanda masuk ke tanah Karo, maka mereka merasakan akibatnya. Namun demikian usaha pekabaran Injil ke Karo tidaklah terhambat dikarenakan perlawanan itu. Sebab kemudian orang Karo sudah sanggup melihat bahwa para missionaris bukanlah merupakan alat penguasa Belanda untuk menjajah mereka, tapi murni didorong oleh cinta kasih ilahi yang ingin membawa Kabar Sukacita itu kepada segala bangsa.

Pdt. Jadiaman Perangin-angin, D.Th

(Ketua Umum Moderamen GBKP)

Makalah ini disampaikan pada :

SEMINAR NASIONAL PERJUANGAN KIRAS BANGUN (GARAMATA) MELAWAN PENJAJAHAN BELANDA (1901-1905) di TANAH KARO HOTEL SIBAYAK BERASTAGI, 23 Agustus 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published.